Sebuah laporan dari Wall Street Journal, yang dibocorkan oleh Gedung Putih, menuduh bahwa Israel memata-matai negosiasi AS dengan Iran lalu memberikan informasi tersebut pada anggota Kongres dari Partai Republik.
“Negara Israel tidak melakukan spionase terhadap AS atau sekutu Israel yang lain,” bantah Netanyahu setelah isu spionase itu menyebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah dokumen tahun 2008, divisi NSA untuk menangkal intelijen asing menempatkan Israel di peringkat ketiga negara yang memata-matai AS, hanya di belakang Rusia dan Tiongkok.
Meski memuji hubungan AS dengan Israel dan menyebutnya sangat berharga, pejabat yang tidak disebutkan namanya menambahkan mengatakan, ”Salah satu ancaman terbesar NSA sebenarnya dari badan intelijen yang ramah, seperti Israel."
Secara khusus, orang-orang Israel "menargetkan kami untuk mengetahui posisi kami terkait masalah Timur Tengah."
Dalam “anggaran hitam” AS pada 2013, Israel berada dalam daftar “target” utama intelijen AS dan “musuh intelijen asing” yang dikelompokkan bersama Rusia, Tiongkok, Iran, Pakistan dan Kuba.
Dokumen NSA tersebut, menurut Intercept, “membuktikan bahwa bentahan Netanyahu adalah palsu: Israel terlibat secara aktif dan agresif dalam spionase melawan AS, meski AS setiap tahun menyokong Israel miliaran dolar dari dana pajak AS dan melindungi setiap aksi Israel di PBB.” (stu)