Hal itu diungkapkan oleh jaksa negara Jerman pada Senin (30/3).
"Beberapa tahun yang lalu sebelum memperoleh izin pilotnya, kopilot pernah menjalani pengobatan psikoterapi dalam periode yang lama dengan kecenderungan bunuh diri," kata kantor kejaksaan di Dusseldorf, di mana kopilot Andreas Lubitz tinggal, dalam pernyataannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti percaya kopilot berusia 28 tahun itu mengunci pilot di luar kokpit dan sengaja menurunkan ketinggian pesawat.
Para jaksa mengatakan pada Senin bahwa mereka tidak menemukan bukti Lubitz merencanakan serangan seperti itu, atau alasan di balik itu.
"Tidak ada keadaan khusus yang bisa menerangkan, baik dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kerjanya, yang menerangkan apa pun yang masuk akal untuk motifnya,” kata pernyataan jaksa.
Seorang juru bicara untuk Lufthansa, perusahaan induk dari Germanwings, mengatakan catatan medis adalah rahasia dokter-pasien, sesuai aturan, dan oleh karena itu maskapai tidak mengetahui soal hal itu.
Di bawah hukum Jerman, perusahaan tidak memiliki akses ke catatan medis karyawan dan catatan sakit seorang karyawan yang tidak masuk kerja,
Peneliti Perancis mengatakan pada Senin mereka menggali sebuah rute akses ke lokasi kecelakaan di pegunungan untuk mempercepat penyelidikan.
Kotak hitam kedua pesawat itu, yang berisi data penerbangan, belum ditemukan.
Kay Kratky, anggota dewan unit penerbangan Lufthansa Jerman, dalam sebuah talkshow mengatakan pada Minggu malam, kuatnya hantaman pesawat di gunung kemungkinan menyebabkan penunjuk lokasi kotak hitam rusak dan tidak berfungsi dengan benar.
"Saya berharap bahwa kita akan menemukan perekam dengan pencarian langsung,” katanya.
Secara terpisah, polisi di Dusseldorf mengatakan evaluasi menyeluruh terhadap barang-barang di rumah Lubitz akan memakan waktu. (stu)