Langkah ini diungkapkan oleh sumber yang dekat dengan rencana ini namun tidak mau disebutkan namanya pada Selasa (7/4), menyusul pengumuman normalisasi hubungan AS dengan Kuba pada 17 Desember lalu.
"Kami berharap Kuba akan dihapus dari daftar tersebut," kata sumber itu, sembari memperingatkan bahwa hingga saat ini pemerintahan Barack Obama belum mengumumkan langkah ini secara resmi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Obama sendiri telah memerintahkan peninjauan kembali terkait masih bertenggernya Kuba di daftar negara pendukung terorisme. Obama berjanji di bertindak cepat segera setelah menerima rekomendasi Departemen Luar Negeri.
"Segera setelah saya mendapatkan rekomendasi, saya akan berada segera bertindak," kata Obama dalam wawancara dengan National Public Radio, dikutip dari Reuters.
Rencana ini juga sebelumnya sempat diungkapkan oleh wakil penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Ben Rhodes, yang menyatakan bahwa rencana ini tengah digodok, namun dia tidak bisa memprediksi kapan rencana ini akan diterapkan.
"Kami berharap bahwa kemungkinan tersebut kini dalam tahap akhir. Tapi kami dan Departemen Luar Negeri tidak bisa memperkorakan kapan," kata Rhodes, dikutip dari CNN, Selasa (7/4).
Masih bertenggernya Kuba di daftar negara pendukung terorisme yang dibuat oleh AS dinilai menjadi penghalang besar bagi rencana AS dan Kuba untuk kembali membangun hubungan diplomatik dengan membuka kedutaan besar di masing-masing negara.
Untuk menerapkan rencana, sumber tersebut menyatakan bahwa AS meminta jaminan kepada pemerintah Kuba bahwa negara sosialis ini tidak akan lagi mendukung terorisme di masa mendatang.
Selain memperlancar hubungan kedua negara, dihapuskannya Kuba dari daftar negara pendukung terorisme dapat berujung pada dicabutnya sejumlah sanksi keuangan terhadap negara itu. Namun, seluruh embargo yang diterapkan AS atas Kuba tetap berlanjut, karena hanya bisa dihapuskan oleh Kongres.
Meskipun demikian, jika Obama setuju untuk menghapuskan Kuba dari daftar tersebut, diperlukan waktu sekitar 45 hari bagi Kongres untuk meninjau keputusan ini.
Kuba termasuk dalam daftar negara pendukung terorisme sejak 1982, ketika negara ini membantu pemberontakan Marxis. Semenjak itu, Havana berhenti mencoba menyebarkan revolusi Marxis dan telah berulang kali mengecam terorisme. (ama/ama)