Oja, yang memimpin brigade di Hadhramaut yang terpaut jarak 794 kilometer dari ibu kota Sanaa, berharap unit militer lain dapat bergabung dengan pemerintah Hadi dan mengumumkan pembelotan dari Saleh.
Selain Oja, Kepala Brigade 123 dan kepala pangkalan udara militer di provinsi timur al-Mahrah, Letnan Thabit Qassem Abdullah, juga mengumumkan kesetiaan kepada Hadi pada Kamis (16/4) dan mendukung serangan udara yang diluncurkan koalisi internasional pimpinan Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, bentrokan antara militer pro-Hadi dengan kelompok pemberontak Syiah Houthi terus terjadi. Bentrokan teranyar terjadi di sebelah barat daya kota Taiz, dekat pelabuhan Mocha, Laut Merah. Korban tewas dan terluka dilaporkan dari kedua belah pihak.
Bentrokan juga terjadi di dalam kota al-Makla di Hadhramaut, antara al-Qaeda yang menguasai bandara al-Rayan dengan militer pro-Hadi Bridgade 27 dan pendukungnya.
Mantan presiden Saleh, yang memiliki loyalis di dalam tubuh militer Yaman, telah lama menggunakan kelompok Syiah Houthi sebagai perjuangan politik terhadap Hadi. (Baca juga: Siapa Saja yang Bertikai di Yaman?)
Sementara, Wakil Presiden Yaman Khaled Bahah pada Rabu (15/4) "berterima kasih" kepada Rusia karena tidak menghalangi pemilihan umum yang dilakukan Dewan Keamanan PBB untuk menerapkan embargo senjata terhadap para pemimpin Houthi di Yaman.
PBB juga telah memasukkan putra mantan presiden Saleh ke dalam daftar hitam setelah menerima laporan dari enam negara Teluk. (Baca juga: Perang Tak Kunjung Usai, Presiden Yaman Tunjuk Wapres Baru)
Bahah menyatakan tidak akan ada pembicaraan damai kecuali Houthi meluncurkan gencatan senjata dan Hadi dapat kembali ke kota pelabuhan Aden, yang menjadi markas pemerintahannya sejak Houthi menguasai ibu kota Sanaa pada Januari lalu. (ama/ama)