Di JCC, JK mengamati semua hal dengan detail. Dari soal kursi, pulpen, ruangan, toilet, hingga sound system dia periksa. JK melakukan pengecekan didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang sudah ada di Gedung JCC saat JK tiba bersama Ketua Panitia KAA yang juga Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Pariwisata Arif Yahya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kursi ini beda?” kata JK sambil mengarahkan telunjuknya ke kursi berwarna putih.
“Ini contoh saja. Nanti semua kursi warnanya sama,” ujar Luhut.
Mendengar jawaban Luhut, JK manggut-manggut. Menurutnya, semua sarana di JCC untuk tiap kepala negara memang perlu disamakan karena Konferensi Asia-Afrika menginginkan kesetaraan.
Ketika berkeliling, JK juga berpesan agar pulpen sebagai alat tulis bagi delegasi peserta KAA ditambah lagi. Dia juga meminta sound system dicek ulang.
Peringatan 60 Tahun KAA diadakan di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April. Segmen pertama digelar di Jakarta 19-23 April. Di ibu kota, konferensi akan diisi beberapa pertemuan mulai dari pertemuan tingkat pejabat tinggi, pertemuan tingkat menteri, hingga pertemuan kepala pemerintahan.
Setelah rangkaian acara di Jakarta selesai, pada 24 April seluruh perwakilan negara peserta KAA bertolak ke Bandung untuk melakukan prosesi napak tilas KAA pertama.
Konferensi Asia-Afrika dahulu diselenggarakan pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Pertemuan di era Perang Dingin kala itu bertujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika, serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara imperialis lainnya. (agk)