Sukumaran sempat membagikan coklat pada para tahanan lainnya dan mengutarakan soal hal-hal yang akan dia lewatkan jika meninggal dunia.
Diberitakan The Independent, Rabu (29/4), hal ini disampaikan oleh Dharminie Mani, sepupu Sukumaran yang mengunjungi anggota Bali Nine itu di Lapas Besi, Nusakambangan, sesaat sebelum eksekusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu dan bibiku hanya diam sambil menangis saat Myu tersenyum dan bercanda untuk menghibur mereka," kata Mani.
Pemerintah Indonesia bersikeras Sukumaran dan Chan tetap dieksekusi karena melakukan pelanggaran berat. Pemerintah Presiden Joko Widodo bergeming saat menerima permohonan penangguhan eksekusi dari Australia.
Mani mengatakan, saat itu Sukumaran membagikan coklat pada tahanan yang lain.
"Saya melihat senyumnya yang lebar dan sederhana mengembang di wajah tahanan lain saat Myu menyuruh saya membagikan coklat dan nut bar yang 'tidak lagi dia perlukan'," tulis Mani.
Selain Chan dan Sukumaran, ada enam terpidana lainnya yang dieksekusi, yaitu empat warga Nigeria, Jamiu Owolabi Abashin yang lebih dikenal sebagai Raheem Agbage Salami, Okwudili Oyatanze, Martin Anderson, dan Silvester Obiekwe Nwolise.
Ada pula Rodrigo Gularte dari Brasil, dan Zainal Abidin dari Indonesia.
Mary Jane Veloso, warga Filipina, lolos dari moncong senapan di menit terakhir di Nusakambangan setelah kasusnya akan ditinjau kembali. Pengacara mengatakan Mary adalah korban karena diperalat Maria Kristina Sergio untuk membawa 2,6 kilogram heroin ke Indonesia.
Mani mengatakan, saat mengunjungi Sukumaran, dia melihat Nwolise tengah menggendong putranya di punggung dan membawanya keliling penjara.
Mary Jane saat itu terlihat terus menimang putranya. Sementara itu, kekasih Salami terdengar terisak.
Chan yang baru saja menikah terus tersenyum, maklum pengantin baru.
Para terpidana mati dilaporkan menyanyikan lagu Kristiani "Amazing Grace" saat menghadapi regu tembak. Mereka menolak ditutup matanya sebelum peluru menghantam jantung mereka. (den)