Diberitakan RT.com, Sabtu (9/5), Hal ini disampaikannya dalam pembicaraan telekonferensi di Melbourne dalam acara Progress 2015. Snowden mengkritisi undang-undang metadata Australia dengan mengatakan bahwa langkah pemerintah ini tidak akan berguna dalam melindungi warga dari serangan teroris di masa depan.
Sebelumnya bulan lalu, Australia mengesahkan undang-undang yang mewajibkan perusahaan telekomunikasi untuk memberikan metadata internet dan telepon para pelanggannya selama dua tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Snowden, apa yang dilakukan Australia ini sama persis dengan praktik pemerintah Inggris dan Amerika Serikat. Dia menegaskan, apa pun yang dilakukan warga "akan diawasi."
Pemerintah Australia berdalih cara ini akan membuat mereka mampu mendeteksi serangan teroris di masa mendatang. Namun Snowden justru menampiknya. Dia mengatakan bahwa praktik semacam ini tidak ampuh dan malah justru berbahaya.
"Sembilan dari 10 orang yang anda lihat di berita melakukan aktivitas jihadi radikal, mereka telah lama tercatat rekam jejaknya. Alasan mengapa akhirnya serangan terjadi juga bukan karena kita tidak cukup mengawasi, tapi karena kita terlalu banyak mendapat informasi," ujar Snowden.
Praktik Australia ini, kata Snowden, juga membahayakan kerja jurnalis yang berusaha menjaga kerahasiaan narasumbernya. "UU metadata ini memudahkan pemerintah mengetahui siapa yang dikontak jurnalis," ujar Snowden.
Snowden saat ini tinggal dalam perlindungan Rusia di Moskow sejak Juni 2013 setelah mendapat suaka politik. Dia membocorkan ratusan ribu dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, berisi soal penyadapan beberapa kepala negara, termasuk Indonesia.
Akibat bocoran Snowden ini, hubungan AS dengan beberapa negara terganggu, di antaranya dengan para mitra penting Washington, Brasil salah satunya.
Belum semua dokumen NSA yang dibocorkan Snowden. Diperkirakan masih banyak lagi yang belum dirilis, termasuk soal kerja badan intelijen Australia. Snowden sebelumnya mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya tengah menyisir mana yang layak dipublikasi. (den)