Pantauan CNN Indonesia, Kamis (21/5), lahan pabrik itu cukup luas. Beberapa tenda didirikan untuk menampung pada pengungsi. Warga Rohingya dan Bangladesh ditempatkan di tenda terpisah yang berjauhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk wanita dan anak-anak ditempatkan di bangunan kosong bekas pabrik tersebut. Bangunan itu pada siang hari gelap dan pengap. Selain itu, para pria Rohingya mengeluhkan diserbu nyamuk di malam hari karena tidur di tenda luar.
"Tapi ini lebih baik ketimbang harus berada di laut," kata seorang Rohingya, Hasan Ali.
Saat CNN Indonesia tiba Kamis siang, belum ada perangkat sanitasi yang memadai sehingga para pengungsi buang hajat di pinggiran sungai yang terdapat di belakang lahan. Beberapa toilet portabel terlihat belum dipasang.
Warga Rohingya diperiksa kesehatannya, dan beberapa yang terlalu parah dibawa ke puskesmas. (Reuters/Beawiharta) |
Beberapa wanita Rohingya terlihat asyik mencari kutu rambut kawannya. Tiga bulan di laut tanpa kenal shampo membuat rambut mereka sangat kotor dan kepala gatal. Untuk pria dengan masalah yang sama, mereka tinggal mencukur habis rambut dengan silet.
Di tenda medis, tim perawat terlihat sibuk mengurus para pengungsi. Kebanyakan para pasien menderita dehidrasi dan diare. Seorang pria yang bertelanjang dada lemas karena kurang cairan. Tangis anak-anak Rohingya pecah saat tangan mereka disuntik jarum infus. Beberapa yang sakit parah langsung dibawa ke puskesmas.
Keadaan ini tidak lantas membuat anak-anak yang lainnya murung. Mereka asyik berlarian di rerumputan, atau bermain lempar balon. Seringai lebar terlihat di wajah mereka saat wartawan memotret.
Pada Rabu, mereka diselamatkan oleh para nelayan desa Simpang Lhee yang melihat perahu para pengungsi di tengah laut.
Menurut Wakil Bupati Aceh Timur, Syahrul bin Samaun, para pengungsi ini adalah tamu mereka yang harus diagungkan. Pemerintah kabupaten, kata dia, siap menyediakan semua keperluan yang diperlukan.
"Kita siap memenuhi kebutuhan mereka. Rezeki datangnya dari Allah," ujar Syahrul.
Sementara itu, bantuan dari masyarakat terus berdatangan. Berupa pakaian bekas, kasur, selimut, makanan ringan dan tikar. (stu)
Warga Rohingya diperiksa kesehatannya, dan beberapa yang terlalu parah dibawa ke puskesmas. (Reuters/Beawiharta)