Diberitakan RT, Kamis (28/5), hal ini diungkapkan dalam laporan bertajuk Prostcost yang dirilis Mouvement du Nid, lembaga pendamping para pekerja seks, bekerja sama dengan Psytel, perusahaan yang menyediakan data statistik soal kesehatan publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerugian justru dialami Perancis dari pengeluaran sosial, seperti akomodasi gawat darurat, tunjangan sosial, tindakan pencegahan penyakit, dan sektor lainnya yang diberikan pada para pekerja seks, yang disebut berjumlah antara 50 hingga 65 juta euro. Belum lagi ditambah pendanaan untuk asosiasi pendukung pekerja seks yang merogoh kocek pemerintah hingga 2,4 juta euro, total kerugian Perancis dari pengeluaran dan potensi pajak diperkirakan hingga 3,2 miliar euro.
"Jika pengguna jasa prostitusi menggunakan uang mereka untuk aktivitas lainnya, Perancis bisa mendapatkan peningkatan pemasukan pajak dan berhemat ratusan juta euro setiap tahunnya dari anggaran yang berhubungan dengan prostitusi," ujar Mouvement du Nid pada BFM TV.
Kerugian sosial juga menjadi beban tersendiri bagi pemerintah Perancis. Menurut laporan tersebut, para pekerja seks enam kali lebih berisiko menjadi korban perkosaan dan 12 kali berpotensi bunuh diri dibanding orang dengan profesi lainnya.
Prostitusi legal di Perancis, namun iklan pekerja seks dilarang. Maret lalu, anggota parlemen Perancis membatalkan rencana mendenda pengguna jasa PSK dan malah mengajukan larangan perdagangan seks. Jika diloloskan, PSK bisa didenda hingga 3.750 euro (Rp54 juta) dan dipenjara hingga dua bulan. (den)