Dalam konferensi pers empat jam usai penembakan, kepala polisi Charleston Gregory Mullen mengatakan bahwa delapan korban tewas di tempat, sementara seorang lainnya meninggal di rumah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mullen mengatakan polisi meyakini bahwa ini adalah kejahatan bermotifkan kebencian untuk kelompok tertentu, dalam hal ini adalah warga kulit hitam.
"Sama sekali tidak terduga di masyarakat seperti sekarang ada seseorang masuk ke gereja saat jemaah tengah berdoa dan membunuh mereka," kata Mullen, dikutip Reuters.
Menyusul serangan tersebut muncul ancaman bom. Setelah dilakukan penyisiran diketahui ancaman itu tidak terbukti.
Hingga saat ini polisi masih terus memburu pelaku yang masih buron. Menurut polisi berdasarkan pengakuan saksi mata, ciri-ciri pelaku adalah pria kulit putih berusia 20-an dengan postur tubuh tegap. Pelaku mengenakan sweater warga abu-abu, jeans biru dan sepatu boot.
Sempat terjadi salah tangkap saat polisi memborgol seorang fotografer yang memiliki ciri persis pelaku. Belakangan, fotografer lokal itu dibebaskan.
Gereja Episcopal Metodis Afrika Emanuel adalah tempat ibadah bersejarah yang dibangun tahun 1816. Saat itu, jemaah kulit hitam dari Gereja Episcopal Metodis Emanuel memutuskan memisahkan diri dan membangun gereja sendiri setelah terlibat cekcok dengan jemaah kulit putih terkait lahan pemakaman.
Enam tahun kemudian, salah satu pendiri gereja itu dituduh terlibat dalam kasus pemberontakan budak. Walaupun dia tidak dihukum, namun gereja itu sempat dibakar massa dan dibangun kembali tahun 1834. (stu)