Muhammad Tahir ul-Qadri, seorang politisi, cendekiawan sekaligus orator, mengatakan bahwa ia ingin kurikulum yang ia buat diterapkan tidak hanya di masjid dan institusi Islam, tetapi juga di sekolah-sekolah di London.
Kurikulum yang dimuat ke dalam 900 halaman ini berisikan pendapat teologis dan ideologis untuk melemahkan ekstremis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Cameron ini menindaklanjuti peristiwa bom bunuh diri pria 17 tahun asal Inggris utara di Irak dalam sebuah serangan ISIS dan tiga perempuan yang pergi ke Suriah dengan membawa sembilan anak-anak mereka.
Sejauh ini setidaknya 700 pemuda Inggris diyakini telah pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung bersama ISIS.
"Anak-anak yang bergabung bersama ISIS, berperang di sana dan meninggalkan kenyamanan mereka di tanah Inggris, mereka akan pergi ke neraka," ujar Qadri.
"Mereka adalah anak-anak kita. Kita harus menyelamatkan masa depan kemanusiaan," ujar pria yang sempat mengeluarkan fatwa bahwa teroris dan pengebom bunuh diri adalah orang tak beragama.
Para ahli dan politisi berpendapat bahwa propaganda online menjadi salah satu faktor para pemuda di Inggris bersikap radikal di negara mereka sendiri.
Demi mengatasi masalah ini, Qadri yang juga merupakan kepala organisasi pendidikan dan keagamaan global Minhajul Quran, mengatakan 50 pemuda Inggris dan 50 pemuda lainnya di Eropa telah dilatih untuk menyebarkan kurikulum ini secara online.
"Ini akan menjadi perang dua arah bukan hanya melalui buku dalam pendidikan di sekolah atau masjid, tetapi juga di media sosial," ujar Qadri. Ia berencana untuk menyebarkan kurikulumnya ke Pakistan, India hingga Eropa dan Amerika Serikat.
Sayeeda Warsi yang merupakan mantan pejabat urusan Agama dan Komunitas di bawah pemerintahan Cameron dan Muslim pertama yang memiliki jabatan di pemerintahan Inggris, mengatakan kepada para imam, polisi, politisi dan akademisi bahwa pemerintah harus mempertimbangkan penggunaan kurikulum ini di semua sekolah.
"Warga Muslim di Inggris adalah bagian dari solusinya dan mereka tidak secara diam-diam membenarkan ISIS, melainkan mengutuknya," ujar Warsi. (yns/yns)