"Kami (ulama) telah menekankan di berbagai acara televisi bahwa bagi mereka yang berisiko, terutama di Karachi, untuk tidak berpuasa," kata Tahir Ashrafi, salah ulama terkemuka Pakistan, dikutip ABC News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbauan ini muncul seiring suhu udara di Karachi yang mencapai 45 derajat Celcius pada puncaknya Sabtu lalu. Rumah sakit dipadati pasien yang terkena sengatan panas.
Gelombang panas telah menewaskan 780 orang di kota berpenduduk 20 juta orang itu.
Di rumah sakit terbesar Karachi, Post Graduate Medical College Hospital, tim medis merawat lebih dari 3.000 orang. Sementara kamar mayat mulai dijubeli jenazah.
Suhu yang mencapai 45 derajat Celcius telah menewaskan 780 orang dan membuat 3.000 warga lainnya dilarikan ke rumah sakit di Karachi. (Reuters/Akhtar Soomro) |
"Ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup," kata Subah Sadiq, penjual buah dan ayah tiga anak, dikutip dari New York Times.
Sadiq memutuskan berbuka puasa karena menganggap mustahil tetap berjualan di luar ruangan tanpa minum air.
Sementara warga lainnya memutuskan tetap berpuasa di tengah terik.
"Selama masih bernyawa, dan punya tekad yang kuat, saya akan tetap puasa," kata Shamim ur-Rehman, seorang petugas keamanan berusia 34 tahun. (stu)
Suhu yang mencapai 45 derajat Celcius telah menewaskan 780 orang dan membuat 3.000 warga lainnya dilarikan ke rumah sakit di Karachi. (Reuters/Akhtar Soomro)