Pendeklarasian status darurat ini, menurut Beji, bakal memberikan kuasa penuh bagi militer dan kepolisian Tunisia untuk memberantas terorisme. Namun, tak lupa dalam pernyataannya bahwa ia juga menjunjung kebebasan berekspresi termasuk kebebasan media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan keji yang diklaim dilakukan oleh simpatisan ISIS pada akhir Juni lalu itu terjadi di tepi pantai Hotel Riu Imperial Marhaba di kota pesisir Sousse.
"Terorisme telah menyebar," kata sang presiden. "Saya percaya, dan saya mengatakan ini dengan jelas. Jika ini terjadi, yang terjadi di Sousse. Jika ini terjadi lagi, negara akan runtuh.”
Sebelum meluncurkan serangan di hotel tepi pantai di Sousse, Tunisia, yang menewaskan 38 orang, pelaku penembakan, Seif Rezgui, diketahui sempat dilatih di kamp militan di negara tetangga, Libya.
Dilaporkan Reuters, penemuan ini disampaikan oleh juru bicara perdana menteri Tunusia, Dafer Neji pada Akhir Juni lalu, setelah tim penyidik melakukan penyelidikan terhadap latar belakang Rezgui.
Tim penyidik menyatakan bahwa Rezgui tengah berada di Libya ketika serangan mematikan sebelumnya terjadi di Museum Bardo di ibu kota Tunis pada Maret lalu. Serangan itu menewaskan 21 wisatawan asing.
Rezgui, 23, seorang mahasiswa teknik elektro, berhasil ditembak hingga tewas oleh aparat keamanan ketika serangan tersebut terjadi pada Jumat (26/6). Jasadnya terlihat tergeletak sembari masih menggenggam senapan Kalashnikov. Terdapat pula sejumlah bahan peledak di tubuhnya. (sip)