Mengopi telah menjadi tradisi yang mengakar di Yunani. Padahal di tengah krisis yang membuat angka pengangguran meningkat dan harga meroket, mereka harus memangkas biaya konsumsi, tapi tidak untuk ngopi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cinta warga Yunani terhadap kopi telah dimulai sejak lama. Bahkan saat pendudukan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, mereka terpaksa menggiling kacang dan biji-bijian lalu menyeduhnya saking rindunya menyeruput secangkir kopi.
Es kopi mungkin pilihan utama. Namun di saat krisis seperti saat ini, kopi tradisional Yunani juga jadi pilihan karena harganya yang murah, paling mahal hanya 2 euro.
Krisis dikhawatirkan akan membuat harga kopi naik. Pasalnya beberapa biji kopi harus diimpor.
"Saya tidak yakin Yunani akan keluar dari euro. JIka demikian, kopi impor seperti Espresso akan lebih mahal dan kami menaikkah harga," kata manajer cafe Old Flo.
"Daya beli pelanggan kami juga akan turun. Mungkin mereka akan mengubah kebiasaan dan kembali ke kopi tradisional atau frappe," lanjut dia.
Berkumpul di warung kopi selain digunakan untuk melupakan kesulitan krisis, juga jadi ajang tukar pikiran, termasuk menentukan apakah mereka akan memilih "ya" atau "tidak" pada referendum kemarin.
"Tentu saja kami memutuskannya sambil mengopi! Bagaimana saya bisa memutuskan hal yang sebegitu penting tanpa berbincang dengan kawan dan secangkir frappe dingin? Itu yang selalu kami lakukan," kata Markos Efthimopoulos, 45, pekerja hotel. (den)