Pekan lalu, Wall Street Journal melaporkan bahwa dokumen hasil penyelidikan terhadap 1MDB menemukan adanya aliran dana sebesar US$700 juta, atau sekitar Rp9,3 triliun dari badan investasi tersebut ke rekening pribadi Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.
(Baca juga: Hampir Rp9,3 T Dana 1MDB Mengalir ke Rekening PM Malaysia)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataan bersama, satgas khusus yang terdiri dari Jaksa Agung, Bank Negara, Kepolisian Diraja Malaysia dan Komisi Anti-Korupsi Malaysia itu memerintahkan pembekuan terhadap enam rekening yang terkait dalam skandal itu. Meski demikian, satgas tersebut tidak merinci pemilik rekening yang dibekukan.
Satgas ini juga menyita dokumen dari 17 rekening di dua bank untuk membantu penyelidikan. Selain itu, dokumen bank yang tidak patuh terhadap peraturan Bank Negara juga disita.
Beberapa Anggota oposisi parlemen memperdebatkan tuduhan korupsi terhadap Najib. Pendukung Partai Aksi Demokrat, Lim Kit Siang menyerukan Komisi Penyelidikan Kerajaan segera memberikan penjelasan tentang masalah ini, sementara tokoh oposisi Lim Guan Eng menuntut 1MDB dan aset Najib segera dibekukan.
Desakan juga datang dari para mahasiswa Universitas Islam Internasional Malaysia agar Wakil Perdana Menteri Muhyiddin Yassin menggantikan posisi Najib sementara penyelidikan masih dilakukan.
Sementara Najib menyebut laporan yang pertama kali dipublikasikan oleh Wall Street Journal itu sebagai "sabotase politik."
Lembaga 1MDB tengah menghadapi badai kritik atas utang sebesar US$11,6 miliar. Berbagai tudingan soal salah urus keuangan juga ramai diberitakan terkait 1MDB.
Tak ayal, Najib, yang menjabat sebagai salah satu dewan penasehat lembaga ini, juga menerima kritikan, utamanya dari tokoh senior yang mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. (ama/stu)