"Di antara mereka, sekitar 500 orang berasal dari beberapa negara di Eropa, dan mereka telah mendapat kewarganegaraan, izin tinggal atau status pengungsi dari negara-negara tersebut," kata Syromolotov.
Tingginya jumlah jihadis kelahiran Rusia, lanjut Syromolotov, menjadikan kebutuhan untuk menekan "setiap langkah" ISIS dan kelompok militan lainnya untuk memasuki wilayah Rusia dan mendekati warga Rusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman yang saat ini dikhawatirkan adalah para jihadis tersebut kembali ke tanah air setelah berperang dan menerima doktrin, untuk membuat kekacauan di negara asal.
"Sudah jelas mereka tidak hanya membawa potensi serangan teroris, tetapi juga idealisme radikal yang dapat berdampak negatif kepada masyarakat, terutama pemuda," kata Syromolotov.
Menurut Pusat Studi Radikalisasi Internasional, hingga Januari 2015 terdapat lebih dari 20 ribu warga negara asing dari sekitar 100 negara di seluruh dunia diperkirakan bertempur bersama berbagai kelompok militan, termasuk ISIs.
Dari jumlah tersebut, hampir seperlima di antaranya berasal dari Eropa Barat, utamanya dari Inggris dan Jerman. Sementara, terdapat lebih dari 1.000 pejuang berasaldari Yordania, Maroko, Arab Saudi dan Tunisia. (ama/stu)