Keputusan ini diambil satu hari setelah Presiden AS Barack Obama dan Presiden Turki Tayyip Erdogan melakukan komunikasi melalui jalur telepon. Sebelumnya, Ankara enggan menyerang militan ISIS di saat beberapa negara Timur Tengah berkoalisi bersama AS untuk menggempur kelompok pejihad tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat AS menolak memberi detil persetujuan dengan Turki dan juru bicara pun menolak mengonfirmasikan hal tersebut secara resmi. Mereka hanya mengatakan bahwa semua bergantung kepada Turki untuk mengonfirmasi.
Sementara itu, pejabat Turki juga menolak memberikan komentar terkait laporan ini.
Juru bicara Gedung Putih, John Earnest mengatakan Obama dan Erdogan setuju untuk 'memperdalam' kerja sama dalam melawan militan ISIS.
Ketika ditanya detil mengenai penggunaan pangkalan Incirlik, ia mengatakan kepada wartawan, "Saya tidak bisa mengatakan tentang isu tersebut karena memperhatikan keamanan operasi khusus".
Perlawanan di perbatasan Turki terjadi beberapa hari setelah peristiwa bom bunuh diri yang diyakini sebagai ulah ISIS. Peristiwa yang terjadi di kota Suruc tersebut menewaskan 32 orang dan memicu gelombang kekerasan.
Insiden ini juga memicu kekhawatiran terhadap konflik Suriah yang dapat tumpah ke Turki dan menyulut ketenteraman minoritas Kurdi. Kantor perdana menteri di Ankara mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa negara akan mengambil langkah apapun yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional.
Meski menjadi anggota koalisi pimpinan AS dalam melawan ISIS, Ankara menolak mengambil langkah tegas dan mengatakan hanya dengan menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad bisa membawa perdamaian, bukan sekadar melakukan serangan udara terhadap ISIS.
Sikap Turki mengecewakan beberapa sekutu NATO, termasuk AS yang memprioritaskan pengentasan ISIS dibanding Assad. Para sekutu mendesak Turki untuk melakukan lebih untuk mencegah perbatasan mereka dengan Suriah dijadikan jalur keluar-masuk para pejihad asing. (den)