"Hal tersebut sungguh tidak layak. Semoga perwakilan pemerintah Indonesia yang dekat dengan Trinidad dan Tobago bisa menyidak kondisi di atas kapal OA-12 yang kini ada di pelabuhan," ujarnya melalui sambungan telepon, dikutip dari pernyataan yang diterima CNN Indonesia, Sabtu (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi soal makanan, FSPILN mengatakan bahwa para pekerja ABK ini hanya memiliki nasi dan timun untuk dimakan sehari-hari jika berada di laut lepas.
"Saat kapal sedang bersandar (di Trinidad), para ABK terpaksa ke hutan di Chaguaramas untuk sekedar mencari ubi dan rebung serta apa saja yang bisa dimakan," bunyi pengakuan salah satu koki kapal asal Indonesia.
Para pekerja mengeluh dengan sistem kerja yang ada di atas kapal yang dinakhodai oleh kapten dan memiliki teknisi asal Taiwan. Sistem kerja yang begitu berat tanpa hitungan upah lembur membuat kondisi para pekerja ABK asal Indonesia ini begitu memprihatinkan.
Kapal OA-12 berbendera St. Vincent and Grenadines memiliki panjang 23,1 meter dan berat 91,7 metrik ton. Kapal jenis longliner penangkap tuna ini dimiliki oleh perusahaan Bright Strong Enterprise Ltd. di Road Town, Kepulauan Virgin Britania Raya. (yns/yns)