John Page, seorang ahli desain pesawat dari Universitas New South Wales di Australia, menyatakan bahwa puing yang ditemukan di Pulau Reunion membuatnya yakin pesawat nahas tersebut pecah di udara, kemungkinan besar ketika pesawat menerjang air laut.
Dilansir dari The Guardian, Page memaparkan bahwa bagian pesawat yang berat, seperti badan dan mesin pesawat kemungkinan besar tenggelam di dasar laut. Namun, puing yang berukuran ringan lain, seperti potongan sayap dan ekor pesawat bagian flaps, elevator dan aileron kemungkinan besar mengambang di laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagian ringan lainnya, seperti panel pintu dan bagian-bagian lain yang dibuat dari kaca serat atau fiberglass juga kemungkinan besar tidak akan tenggelam. "Struktur pesawat selalu dibuat sangat ringan namun kuat," kata Page.
Sementara menurut ahli penerbangan Australia, Neil Hansford mengatakan potongan flaperon yang ditemukan di Pulau Reunion dapat memberi petunjuk soal bagaimana pesawat tersebut memasuki air laut.
"Puing itu menunjukkan bahwa pesawat jatuh ke laut, dan ketika mesin ikut jatuh ke dalam laut, puing ini berada di belakang salah satu mesin. Seharusnya, setidaknya ada satu bagian sayap lagi yang mengambang di lautan," kata Hansford, dikutip dari ABC.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Michael Smart, profesor teknik penerbangan dari Universitas Queensland. "Jika satu puing dapat mengapung dan terdampar, aneh rasanya jika tidak ada puing lainnya yang mengapung di laut," katanya.
Namun, menurut profesor teknik mesin dari Universitas Washington, Mark Tuttle, seluruh struktur pesawat akan cukup berat untuk tenggelam di air laut. Terbukti puing flaperon bisa ditemukan karena memang didesain memiliki ruang hampa sehingga bisa mengambang. (stu)