Pihak berwenang di Zimbabwe menetapkan larangan terbatas berburu di sekitar Taman Nasional Hwange pada 1 Agustus lalu, sejak kematian singa yang diberi nama Cecil memicu kemarahan internasional. Pasalnya, Cecil yang menjadi objek foto favorit di Taman Nasional Hwage mati menggenaskan, dua hari setelah ditembak busur panah oleh pemburu.
(Baca juga: Usai Insiden Singa Cecil, Perburuan Singa Zimbabwe Berlanjut)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Larangan di daerah tersebut akan ditinjau setelah proses pengadilan seorang pria lokal dituduh membantu pemburu asal Amerika Serikat Walter Palmer, untuk membancing Cecil keluar dari taman nasional dan menjadi mangsa perburuan.
Kematian Cecil memicu kemarahan global di media sosial terhadap Palmer. Reaksi masyarakat pencinta lingkungan dan hewan bahkan menyebabkan praktek dokter giginya ditutup untuk waktu yang belum ditentukan.
Berburu singa bukan aktivitas ilegal di banyak negara di Afrika. Para pendukung perburuan berdalih bahwa jika diatur dengan benar, aktivitas ini dapat menghasilkan pendapatan yang besar bagi negara-negara Afrika, karena tak jarang menjadi alternatif wisata mahal bagi turis asing.
Pendapatan dari turis asing dapat digunakan untuk membantu biaya konservasi hewan-hewan Afrika.
Selain itu, singa bukan satwa yang dilindungi di Zimbabwe. Namun penyelidikan menunjukkan bahwa pembunuhan Cecil ilegal karena pemilik lahan tidak memasukkan singa dalam kuota perburuan pada 2015.
Sementara Palmer mengaku tidak tahu dan menyesal telah memburu singa yang menajdi kesayangan masyarakat Zimbabwe dan menjadi objek penelitian Universitas Oxford di Inggris. Menurut Palmer, perburuan yang dia lakukan tersebut legal.
Sementara pemerintah Zimbabwe kini berupaya mengekstradisinya dari Amerika Serikat agar dapat diadili di Zimbabwe terkait perburuan ilegal. (stu)