Dilaporkan Reuters, Menteri Keuangan Myanmar Chin Nan Zamon mengatakan bahwa pemerintah di Hakha, ibukota negara bagian Chin, memindahkan hampir 4.000 warga ke tempat yang lebih aman setelah tanah longsor yang disebabkan hujan menghancurkan 375 rumah di wilayah itu.
Menurut pemerintah dan badan kemanusiaan PBB, setidaknya 103 orang tewas dan lebih dari satu juta orang terkena dampak dari banjir tersebut. Bencana ini merupakan yang terparah setelah Topan Nargis yang menewaskan hampir 140 ribu orang pada Mei 2008.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sedang melakukan evakuasi saat ini, memprioritaskan warga yang rumahnya terkena dampak yang parah," katanya.
Hakha terletak sekitar 970 kilometer sebelah barat laut ibu kota Yangon, serta merupakan salah satu wilayah dari daerah termiskin dan tak berkembang.
Puluhan negara telah memberikan bantuan berupa uang tunai. China mengirim truk dengan pasokan bantuan, India dan Australia menggunakan pesawat militer untuk mengirimkan suplai, sementara Uni Eropa dan Amerika Serikat berjanji memberikan bantuan.
Nan Zamon memaparkan terdapat 3.000 orang dari desa terdekat yang dievakuasi ke tempat perlindungan sementara di sejumlah gedung pemerintah serta gereja.
"Karena bahaya tanah longsor dapat meningkat lebih parah, kami sedang mencari tempat yang lebih aman untuk warga. Saat ini, para ahli sedang melakukan survei geologi untuk menemukan tempat yang aman dan luas yang dapat menampung orang yang lebih banyak," tutur Zamon.
Dengan adanya bencana alam ini, pemerintah Myanmar menunda pertemuan parlemen yang dijadwalkan pada 10 Agustus. Pertemuan yang dijadwalkan ulang pada 18 Agustus ini disebut sebagai sesi terakhir sebelum pemilihan umum pada awal November mendatang. (ama/ama)