"Saat itu, orang yang (belajar) ke luar negeri hanyalah yang berbakat dan diberikan beasiswa," ujar Habibie saat menjadi pembicara di acara Kongres Diaspora Indonesia ke-3 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (13/8).
"Bidang yang boleh diajukan pun hanya bidang dirgantara dan perkapalan, yang lain belum boleh," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi saya tidak boleh (menerima beasiswa) saat itu. Bukan karena orang tua saya kaya raya, tetapi karena ibu saya," ujar Habibie.
Rupanya, sang ibunda Habibie memiliki alasan dibalik tindakannya melarang Habibie untuk mengambil beasiswa. Setelah ayah Habibie meninggal dunia saat dirinya berusia 13 tahun, sang ibunda berjanji untuk membiayai segala keperluan anak-anaknya dengan usaha sendiri hingga menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Tak seperti mahasiswa Indonesia lain yang memiliki paspor biru karena beasiswa, paspor Habibie saat itu berwarna hijau yang berarti penduduk sipil biasa.
Belum lagi soal dana. Ketika mahasiswa lain menerima sokongan dana melalui beasiswa, Habibie harus rela susah payah menunggu kiriman uang dari sang ibunda.
"Terkadang uang terlambat datang, setengah mati saya makan. Saya juga tidak bisa naik bis dan terpaksa jalan kaki. Tetapi saya senang," ujarnya.
Tak ada masjid
Namun, Habibie tidak menampik dirinya juga mengalami kesulitan atau rindu dengan keluarga. Ia mencoba mencari masjid untuk beribadah sambil menenangkan diri, namun sia-sia.
"Tidak ada masjid. Ada gereja. Di depan gereja Katolik, saya berkata, 'Ya Allah, gedung ini dibuat oleh manusia yang cinta padamu. Perkenankan saya untuk memasuki gedung ini dan beribadah sesuai dengan cara dan budaya saya untuk keluarga dan bangsa saya'," ujarnya pelan.
Dari sini, ia pun menyadari kemegahan bangsa Indonesia. Dikaruniai beragam adat, budaya dan agama, Habibie merasa Indonesia adalah negeri tanpa sentimen SARA.
Duka Habibie semakin membakar semangatnya untuk mewujudkan cita-cita. Ia bermimpi bahwa suatu saat nanti Indonesia bisa memiliki pesawat terbang sendiri yang mampu mengangkut barang dan manusia di negeri kepulauan ini.
Bermodal secukupnya dan tekad kuat yang diwariskan langsung oleh sang ibunda, Habibie kemudian menjadi pengembang pesawat pertama dalam sejarah Indonesia.
Habibie, merupakan salah satu tokoh diaspora Indonesia. Semangatnya membangun Indonesia, meski tak berada di Tanah Air, menjadi inspirasi bagi para diaspora Indonesia lainnya di seluruh dunia. (ama/ama)