Direktur Palang Merah Asuncion Mario Villalba kepada CNN mengatakan bahwa bocah yang tidak disebut namanya itu melahirkan bayi perempuan seberat 3 kilogram melalui operasi caesar. "Bayi dan ibunya dalam kondisi sehat," kata Villalba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu korban dibebaskan Juni lalu dengan jaminan. Kepada CNN dia mengatakan pernah mengadukan hal ini pada aparat namun jaksa menolak kasusnya. Namun Menteri Kesehatan Antonio Barrios membantah pengakuan tersebut dengan mengatakan bahwa tetangga mereka yang awalnya melaporkan perkosaan itu dan ibunya malah membantah tuduhan terhadap suaminya.
Kehamilan korban diketahui pada April lalu setelah ibunya membawa putrinya itu ke rumah sakit setelah mengeluh sakit perut.
Awalnya ibunya ingin agar gadis itu menjalani aborsi, sebuah permintaan yang didukung oleh banyak kelompok HAM, salah satunya Amnesty International, dengan alasan akan membahayakan nyawanya.
Namun permintaan ini ditolak pengadilan Paraguay karena dianggap merupakan pelanggaran hukum.
Paraguay adalah salah satu negara dengan hukum aborsi paling ketat di dunia. Aborsi di negara ini hanya bisa dilakukan jika kehamilan berbahaya dan mengancam nyawa ibu. Dalam kasus ini, dokter mengatakan kehamilan tidak mengancam jiwa kendati korban masih berusia sangat muda.
Menurut laporan PBB tahun 2013, ada dua juta anak gadis di bawah usia 14 tahun yang melahirkan di negara-negara berkembang setiap tahunnya, kebanyakan mengalami masalah kesehatan jangka panjang.
Diperkirakan ada 70.000 remaja meninggal dunia setiap tahunnya karena komplikasi kehamilan atau saat kelahiran.
Di Paraguay, ada 684 gadis berusia antara 10 dan 17 tahun melahirkan tahun lalu. Kebanyakan mereka adalah korban kekerasan seksual, berdasarkan data resmi pemerintah. (den)