"Tim investigasi Perancis yang memimpin penyelidikan flaperon pesawat telah merampungkan tahap pertama penyelidikan," bunyi pernyataan dari Biro Keselamatan Transportasi Australia di situs resmi mereka, dikutip dari Reuters.
"Otoritas Perancis akan, setelah berkonsultasi dengan Malaysia, melaporkan hasil penyelidikan pada waktunya," bunyi pernyataan tersebut melanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biro Keselamatan Transportasi Australia juga menyatakan bahwa para pejabat Australia, Malaysia dan China mengusulkan adanya pertemuan pada awal September di Canberra untuk berbagi informasi dan mendiskusikan rencana pencarian pesawat, "sembari memanfaatkan cuaca yang lebih baik di musim panas."
Pesawat ini sebelumnya diyakini jatuh di Samudera Hindia, sebelah barat Australia, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi soal alasan dan bagaimana pesawat itu jatuh, menjadikannya sebagai salah satu misteri terbesar dalam dunia penerbangan.
Dua pekan lalu, penyidik Perancis menyatakan bahwa terdapat "dugaan yang sangat kuat" bahwa puing tersebut berasal dari pesawat MH370.
Hingga saat ini, belum jelas kapan pihak berwenang Perancis atau Malaysia akan merilis rincian tentang penyelidikan puing pesawat tersebut. Namun, para ahli investigasi kecelakaan menilai bahwa hasil penyelidikan tersebut akan memberikan informasi yang terbatas terkait hilangnya MH370.
"Hanya konfirmasi yang sangat, sangat terbatas bahwa pesawat tersebut hilang di Samudera Hindia," kata Jean-Paul Troadec, mantan presiden lembaga investigasi kecelakaan Perancis, BEA.
Dia mengatakan flaperon tersebut, meskipun tidak utuh, menunjukkan bahwa pesawat tidak menerjang air dengan kecepatan tinggi. Sebab, jika menerjang air dengan kecepatan tinggi, diperkirakan puing pesawat akan sangat kecil, bukan berupa potongan seperti flaperon tersebut. (ama/ama)