Diberitakan Reuters, Minggu (23/8), keempat orang itu akan diganjar penghargaan tertinggi, Legion d'honneur, pada Senin (24/8) di Paris, menyusul insiden Jumat lalu di atas kereta cepat dari Amsterdam menuju Paris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat pelaku dengan AK47 dan sepertinya senapannya macet, dia mencoba mengokangnya," kata Stone.
Bersama kedua kawannya, Stone menubruk Khazzani, mencoba mengambil senjata dari tangan pelaku dan mencekiknya. Norman ikut dalam pertarungan itu.
Jempol Stone hampir putus saat pelaku menyerangnya dengan pisau cutter. Khazzani juga coba mengeluarkan pistol lainnya sebelum akhirnya pingsan. Jari Stone berhasil diselamatkan setelah mendapatkan perawatan dari tim medis.
Seorang pria berkewarganegaraan AS-Perancis tertembak di leher saat pertama kali mencoba melumpuhkan tersangka. Di saat seperti itu, latihan perang Stone berguna. Dia menolong pria yang tidak diketahui namanya itu agar darahnya tidak keluar banyak.
"Awalnya saya mau menggunakan kaos untuk menghentikan darahnya, tapi sepertinya tidak berhasil. Jadi saya masukkan dua jari saya ke lubang di lehernya, dan menemukan urat nadinya, menekannya lalu pendarahannya berhenti," kata Stone.
Pria itu masih menjalani perawatan di rumah sakit, kondisinya saat ini dilaporkan telah stabil.
Ketiga pria Amerika yang tumbuh bersama di Sacramento, California, tengah berlibur ke Eropa untuk merayakan kepulangan Skarlatos dari bertugas di Afghanistan.
Belum diketahui motif serangan Khazzani. Dugaan kuat, itu adalah serangan teror. Namun pengacaranya mengatakan bahwa pria itu hanya ingin merampok, buktinya Khazzani tidak terlatih menggunakan senapan dan kondisi tubuhnya kekurangan gizi.
Skarlator membantah pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Khazzani terlihat siap betul melakukan penyerangan.
"Tidak butuh hingga delapan magasin untuk merampok kereta. Pria ini punya banyak amunisi dan niatnya sangat jelas," ujar Skarlatos. (stu)