Para kritikus kerap menyebut Maduro sebagai Donald Trump dari Amerika Latin menyusul keputusannya untuk menutup penyebrangan di wilayah perbatasan dan mendeportasi ratusan imigran asal Kolombia.
Langkah Maduro ini mengingatkan publik dengan pernyataan yang kental sentimen rasisme dari Trump, yang menyebut imigran dari Meksiko hanyalah penjahat dan pemerkosa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maduro menutup penyeberangan di wilayah perbatasan sejak pekan lalu setelah baku tembak terjadi antara penyelundup dan pasukan Venezuela, menyebabkan tiga tentara yang terluka.
Sejumlah gambar ramai tersebar di sosial media menggambarkan wajah Trump dengan kumis hitam lebat ala Maduro. Sejumlah gambar lainnya memperlihatkan Maduro dengan potongan rambut pirang seperti Trump.
"Mereka mengatakan Maduro seperti Donald Trump! Bayangkan! Saya bahkan tidak memiliki gaya rambut seperti itu, dan tentu saja, tidak memiliki uang sebanyak itu," kata Maduro dalam sebuah siaran televisi lokal pada Senin (24/8).
Dalam pidatonya yang bernada keras, Maduro juga mengatakan bahwa Venezuela merupakan "korban" dari Kolombia. Maduro menuduh pedagang gelap dari Kolombia berniat memperburuk krisis barang pokok di Venezuela dengan menyelundupkan deterjen dan bensin melalui perbatasan.
Wilayah perbatasan Venezuela dan Kolombia merupakan wilayah seluas 2.219 kilometer dengan pengamanan yang seadanya sehingga kerap dilalui oleh penyelundup serta kelompok bersenjata.
Para kritikus menilai bahwa penyelundupan barang pokok di Venezuela merupakan akibat dari kontrol ketat pemerintah atas mata uang dan harga kebutuhan sehari-hari. Selain itu, Maduro dinilai mencari simpati publik di tengah krisis dengan menjadikan Kolombia sebagai kambing hitam.
Mantan presiden Kolombia, Andres Pastrana, menyatakan bahwa langkah Maduro tersebut "jelas merupakan tindakan dari Trump versi Amerika Latin."
Pendapat serupa juga dilontarkan oleh mahasiswa fakultas hukum, Perdo Torrealba. "Saya lihat mereka berdua sama-sama gila. Mendeportasi warga Kolombia tidak bisa dibenarkan dan saya malu dengan pemerintah saya," katanya. (ama/ama)