Tanpa kompas, mereka mengandalkan jejaring sosial Facebook sebagai alat penunjuk arah menuju penyelundup yang diharapkan dapat membawa mereka ke tanah Eropa.
Media sosial basis Amerika Serikat yang dahulu membantu mobilisasi gerakan Arab Springs kini bertransfromasi menjadi kendaraan bagi para korban perang sipil Suriah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan bahasa Arab, para penyelundup pun memajang nomor kontak individu yang akan membawa pengungsi menyeberang ke pulau Yunani terdekat, bahkan langsung ke Eropa.
Berbagai pilihan rute perjalanan aman pun dijabarkan. Untuk menuju Yunani, misalnya, penyelundup menjelaskan perbatasan antara Serbia dan Hungaria yang mudah dijebol. Harga yang harus dibayar oleh pengungsi juga tertera jelas.
"Perjalanannya besok, 100 persen, sudah pasti. Mereka akan memberikan jaket pengaman gratis," tulis salah satu penyelundup.
Penyelundup lain bahkan menawarkan perjalanan lebih nyaman menggunakan kapal pesiar turis dengan biaya 2.500 Euro atau setara Rp39,7 juta.
Meskipun dengan harga tinggi, mereka berani membayarnya demi kebebasan.
"Saya membutuhkan waktu tiga bulan untuk memutuskan meninggalkan Suriah. Banyaknya keputusasaan setelah bertahun-tahun perang dan pembunuhan yang akhirnya membulatkan tekad saya untuk pergi," kata Hafez, seorang pengungsi dari Damascus.
Jejaring sosial memang memegang peranan penting dalam berbagai gerakan di Arab sejak 2001. Kala itu, jejaring sosial membantu komunikasi para aktivis penentang pemerintah di negara-negara seperti Mesir, Libya, dan Suriah. Melalui media sosial pula, para warga menyiarkan kabar kerusuhan yang terjadi akibat pergerakan tersebut.