Dilaporkan CNN, Kejaksaan Agung dan komisi investigasi PBB menemukan indikasi bahwa Molina dan beberapa koleganya menerima suap sebagai ganti mengurangi pajak bagi perusahaan importir ke Guatemala.
Dalam sebuah pesan yang disiarkan di stasiun televisi dan radio nasional pada bulan lalu, Molina menampik tudingan tersebut. Menurut Molina, tuduhan tersebut sengaja dilontarkan oleh lawan politiknya yang melindungi kepentingan asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden tidak lari dan tidak pernah bersembunyi, tidak akan kabur atau mencari suaka," kata jaksa Cesar Calderon.
Dibutuhkan setidaknya 105 suara anggota dewan untuk melengserkan seorang presiden di Guatemala. Ketika penghimpunan suara dilakukan, 132 anggota dewan menuntut Molina mundur, sementara 26 lainya abstain.
Pemilihan umum presiden pun langsung dijadwalkan pada Minggu (6/9).
Mundurnya Molina tak ayal menimbulkan guncangan dalam pemerintahan Guatemala. Pasalnya, wakil Presiden Guatemala, Roxana Baldetti, juga melepas jabatannya akibat tuduhan korupsi yang sama pada Mei lalu.
Sementara menunggu pemilu, Wakil Presiden pengganti Baldetti, Maldonado, menduduki kursi presiden. Politisi ini dianggap mumpuni memimpin bangsa.
Rekam jejak kariernya menunjukkan Maldonado sudah pernah menjabat sebagai anggota dewan Guatemala City, anggota kongres, menteri pendidikan, Duta Besar Guatemala untuk Meksiko, dan Duta Besar Guatemala untuk PBB. (ama/ama)