NEA, seperti dikutip dari The Straits Times, Minggu (13/9), mengimbau warga di Singapura untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan kegiatan fisik untuk mencegah mereka terkena penyakit akibat paparan asap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang warga di Singapura, Rosaini Dian, menyatakan kondisi udara amat buruk. Bau asap bahkan tercium di dalam rumah meski pintu dan jendela telah ditutup.
“Ini sungguh mengerikan. Udara memang tak bagus sepekan terakhir ini, tapi dua hari belakangan lebih parah lagi. Dampak asap terasa ke mata dan kulit. Saya memilih tak keluar rumah,” kata Rosaini kepada CNN Indonesia.
Ia berharap pemerintah Indonesia dan Singapura dapat bekerjasama untuk segera mengatasi persoalan asap akibat kebakaran hutan Sumatera itu. (Baca juga: Istana Singgung Persekongkolan di Balik Kebakaran Hutan)
Singapura telah menawarkan bantuan kepada RI untuk memadamkan kebakaran hutan di Sumatera. Ada 665 titik panas yang terdeteksi di pulau itu pada Jumat kemarin, dengan sebaran 475 titik di Sumatera Selatan, 10 di Bengkulu, 83 di Jambi, 45 di Bangka Belitung, 25 di Lampung, 12 di Riau, 8 di Sumatera Barat, 5 di Kepulauan Riau, dan 1 di Sumatera Utara.
Asap kebakaran hutan Sumatera ini juga mengancam reputasi Singapura sebagai destinasi wisatawan mancanegara.
Asia One melaporkan, seorang turis India di Singapura, Ramya Sivara, batal menghabiskan liburan empat hari bersama keluarganya dengan bersenang-senang. Ia terlihat mendorong kereta bayi berisi putrinya yang sakit di Gardens by the Bay. Sang putri terlihat batuk-batuk dan kesulitan bernafas.
Level indeks standar polutan di Singapura kemarin mencapai rekor tertinggi tahun ini, yakni 211. Level itu berada di kisaran amat tak sehat. (agk)