Diberitakan The Independent, Selasa (17/9), Naguib Sawiris bahkan telah menghubungi para pemilik pulau di Yunani untuk menyampaikan tawaran pembelian. Taipan bidang komunikasi dan teknologi ini mengatakan, "ide gila" itu layak dijalankan untuk memberikan hunian sementara bagi para pengungsi hingga konflik usai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada majalah NewsWeek, Sawiris mengatakan telah menganggarkan dana hingga US$200 juta atau lebih dari Rp2,8 triliun untuk membeli beberapa pulau di Yunani. Sekitar 10 ribu dukungan datang melaui email pribadinya, menyatakan siap membantu rencana tersebut.
Rencananya ini menuai kritik, bahkan tidak sedikit yang menyangsikannya.
"Jika kalian punya ide yang lebih baik, silakan saja. Peraturan di perusahaan saya, siapa saja yang mengkritik solusi saya dan tidak punya rencana yang lebih baik, saya katakan pada mereka untuk tutup mulut," tegas Sawiris.
Sawiris mengatakan telah mengidentifikasi dua pulau pribadi untuk mewujudkan rencananya ini.
"Kami telah berkirim surat dengan pemilik pulau itu dan menyatakan keinginan kami untuk bernegosiasi serta meminta izin pemerintah Yunani untuk menampung pengungsi dengan jumlah maksimal yang diperbolehkan peraturan Yunani," kata Sawiris.
Rencana Sawiris menarik perhatian Komisi Tinggi Pengungsi PBB, UNHCR, yang telah mengirim stafnya untuk bertemu Sawiris, membicarakan masalah kerja sama.
"Jika mereka (pemerintah Yunani) tidak memberi dukungan administrasi, maka ide ini akan mati. Saya berharap politisi mulai berpikir bahwa saya serius dan ide ini tidak buruk," ujar Sawiris. (stu)