Fan Changlong, salah satu wakil Komisi Militer Pusat yang mengendalikan angkatan bersenjatan China dan diketuai oleh Presiden Xi Jinping, mengatakan di depan forum keamanan tingkat tinggi bahwa China ingin menghindari konflik.
“Kami tidak akan sembarangan mempergunakan kekuatan, bahkan dalam masalah kedaulatan, dan telah berupaya keras menghindari konflik yang tidak diduga,” kata Fan di forum pertemuan para menteri pertahanan Asia Tenggara di Beijing, Sabtu (17/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hubungan China dengan negara-negara Asia Tenggara, seperti Filipina dan Vietnam, menjadi tegang akibat pernyataan China yang semakin berani dalam mengklaim wilayah Laut Cina Selatan.
Langkah Beijing untuk mempercepat pembangunan pulau buatan, yang disebut untuk keperluan sipil, dikritik keras Washington.
Amerika Serikat mengatakan hukum internasional melarang klaim wilayah di sekitar pulau buatan yang dibangun di atas pulau karang yang mulai tenggelam, dan militer AS akan melalui atau terbang di wilayah yang diijinkan oleh hukum internasional.
Beijing menyangkal telah memperkuat militer di Laut Cina Selatan, dan memperingatkan tidak akan membiarkan pelanggaran wilayah lautnya atas nama kebebasan berlayar.
Beberapa pengamat di Washington memandang Amerika Serikat telah memutuskan untuk melakukan operasi kebebasan berlayar di dalam batas laut 12 mil yang diklaim milik China di sekitar pulau buatan di kepulauan Spratly itu.
China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Taiwan dan Brunei memperebutkan wilayah di Laut Cina Selatan yang setiap tahun dilewati oleh kapal dagang yang membawa barang bernilai US$5 triliun. (yns)