Masyarakat Adat Memprotes Militerisasi di Filipina Selatan

Melodya Apriliana | CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2015 03:15 WIB
Masyarat Lumad dari Filipina Selatan melakukan aksi di Manila, memprotes militerisasi di kampung halaman mereka. Masyarakat adat juga terdampak konflik yang terus berlangsung di Filipina Selatan. (Reuters/Froilan Gallardo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan masyarakat adat dari Pulau Mindanao di selatan Filipina berkumpul di ibu kota Manila pada Senin (26/10) untuk memulai aksi protes selama satu pekan. Masyarakat Lumad tersebut mendesak demiliterisasi dari tanah yang telah mereka tinggali secara turun temurun.

Datu Kaylo Bontolan, seorang anggota Suku Manobo dari Mindanao telah tinggal di pusat evakuasi selama lima bulan bersama keluarga dan ratusan anggota suku lainnya. Pusat evakuasi itu panas, sempit, dan amat jauh dari tempatnya bekerja. Namun dirinya terpaksa bertahan di sana usai rentetan pembunuhan saudara satu sukunya dan berlanjutnya militerisasi di tempat tinggalnya.

"Saya sedih, tidak puas, dan marah karena di tanah saya sendiri, tentara Filipina harusnya membantu kami namun mereka malah mendukung korporasi besar. Mereka merenggut tanah dan penghidupan (kami)," ujarnya lirih, dilansir dari Channel NewsAsia, Selasa (27/10).


Bontolan merupakan orang Lumad, sebutan kolektif bagi 18 suku adat yang tinggal di Mindanao. Ia adalah salah satu anggota konvoi dari 800 pengunjuk rasa yang menempuh perjalanan ke Manila demi memprotes keadaan mereka.

Selama sepekan ke depan, rangkaian pawai, dialog, dan kegiatan kampanye tentang penderitaan mereka bakal digelar.

Orang Lumad yang tinggal di wilayah kaya sumber daya di Mindanao, selama ini terus dengan pertikaian tiada henti seputar sumber daya tanah mereka. Kini wilayah itu tengah dimiliterisasi akibat ancaman dari sejumlah kelompok pemberontak dan organisasi ekstremis, dan tak jarang orang Lumad yang menjadi korbannya.

Terdapat pula sejumlah laporan pembunuhan anggota suku, termasuk seorang advokat yang aktif memprotes dugaan pelanggaran hak, tambang, dan konversi lahan di sana.

Dari Maret hingga Oktober tahun ini, PBB mendokumentasi pembunuhan 14 pemimpin Lumad, aktivis, dan warga desa, juga anak-anak. Serangan terhadap sekolah adat dan guru turut dilaporkan terjadi.

Juru bicara Kalumaran Mindanao di kota Davao, Kerlan Fanagel, menegaskan, "Kami ingin pemerintah menarik seluruh pasukan bersenjata di Filipina yang telah menjajah masyarakat, sekolah, dan rumah kami, serta siapapun yang ingin merebut ranah leluhur kami secara sistematis."

Protes yang dilakukan orang Lumad pelan-pelan menarik perhatian publik nasional dan internasional, terbukti dengan pernyataan protes terhadap pembunuhan yang dilontarkan oleh beberapa anggota pemerintah Filipina. PBB tak luput mendesak diadakannya penyelidikan untuk kasus tersebut.

Bagi orang seperti Bontolan, ia berjuang demi jalan hidup dan tanah yang dimiliki oleh leluhurnya selama ratusan tahun. Memang perjalanan yang panjang, namun ia berharap hasilnya akan setimpal. (stu/stu)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER