Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada Selasa (2/11) mengatakan bahwa rakyat Suriah harus menentukan sendiri siapa presiden mereka.
"Kami tidak mengatakan bahwa Assad harus pergi atau bertahan," ujar Zakharova kepada kantor berita Rusia, Sputnik, seperti dikutip CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rencana tersebut, Assad akan menyerahkan kekuasaan ke pemerintah yang terpilih melalui pemilihan umum.
Sebelumnya, Assad sudah bertandang ke Moskow, Rusia, untuk berdiskusi dengan Presiden Vladimir Putin. Maksud perbincangan tersebut adalah untuk mengoordinasikan aksi melawan terorisme, label yang selalu disematkan oleh Assad untuk merujuk musuh-musuhnya.
"Rakyat Suriah sudah bertahun-tahun melawan teroris internasional ini sendirian," kata Putin.
Meskipun menunjukkan dukungan, Zakharova memastikan bahwa negaranya tak pernah membicarakan mengenai mempertahankan posisi Assad. "Tentu tidak. Kami tidak pernah berbicara mengenai itu," ucapnya.
Zakharova lantas kembali berfokus pada isu terorisme. Menurutnya, para diplomat tersebut harus menentukan daftar kelompok yang mereka anggap teroris dalam pertemuan selanjutnya.
ISIS memang merupakan musuh bersama. Namun, selama ini AS dan koalisi serangan udaranya tidak sepakat dengan Rusia yang diduga juga turut menggempur kelompok militan lain yang jadi korban ketidakadilan rezim Assad.
"Keputusan mengatakan bahwa para ahli di bidang terorisme harus mengadakan konsultasi untuk mencapai kesepakatan dalam isu ini," katanya.
Pernyataan ini dianggap semakin mengaburkan sikap Rusia. Pekan lalu, Kepala Intelijen Nasional AS, James Clapper, juga mengaku belum memahami strategi Rusia.
"Saya pribadi mempertanyakan apakah ia memiliki strategi jangka panjang atau ia sangat oportunis. Saya rasa intervensinya di Suriah juga merupakan manifestasi dari itu," katanya. (stu)