Pemerintah Beijing tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, jadi tidak mungkin Presiden China Xi Jinping memanggil Ma Ying-jeou dengan sebutan "presiden Taiwan". Sebaliknya Ma, juga tidak bisa memanggil Xi dengan sebutan "presiden" karena bisa dianggap sikap tunduk terhadap China yang masih menganggap Taiwan adalah bagian dari negaranya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah kesepakatan praktis dibawah prinsip 'satu China', karena situasi ketidaksepahaman politik kedua negara yang belum sepenuhnya diselesaikan. Langkah ini mencerminkan pengalihan konflik dan semangat saling menghormati," tulis Xinhua.
Dalam laporannya nanti, Xinhua juga akan menghindari penggunaan kata presiden, mengganti jabatan keduanya dengan "pemimpin kedua pantai" dan "tuan". Sementara kantor berita Taiwan, Central News Agency, tetap akan menyebut Ma sebagai "presiden" namun tidak untuk Xi yang ditulis sebagai "pemimpin Komunis China."
New York Times mencatat, permasalahan tidak hanya pada penyebutan nama gelar masing-masing pemimpin. Perkara protokoler juga menjadi perhatian utama, karena hal ini akan menjadi masalah jika disalahartikan.
Di antaranya adalah bendera apa yang akan ditampilkan, siapa yang mengulurkan tangan lebih dulu untuk bersalaman, dan bagaimana gerak-gerik keduanya sehingga mencerminkan hubungan kedua negara.
Menurut pejabat pemerintah Taiwan, pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan apa pun, namun lebih banyak berdiskusi soal perdamaian.
Pertemuan terakhir pemimpin kedua negara dilakukan pada 1945 oleh pemimpin Partai Komunis Mao Zedong dan Nasionalis Chiang Kai-shek. Tahun 1949 perang sipil berakhir dan Taiwan memisahkan diri dari China.
Walau berseteru namun China adalah mitra dagang terbesar Taiwan, ratusan penerbangan antara kedua negara terjadi setiap pekan dan bank-bank China kini beroperasi di Taiwan. Perusahaan Taiwan juga banyak membuka cabang di China. (den)