Kabut itu begitu tebalnya hingga gedung-gedung di Changcun, ibukota provinsi Jilin di timur laut, jadi tak kasat mata. Sebuah foto menunjukkan penanda neon restoran warna kuning nampak melayang di udara bertuliskan "Northeastern Dumpling King".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kabut hari ini amat parah dan mencekik - saat saya keluar rumah, saya kira rumah seseorang sedang terbakar," ujar seorang pengguna di situs jejaring sosial China, Sina Weibo.
Di jejaring sosial pula, pemerintah Changchun mengatakan bahwa respons darurat "level tiga" sedang diinisiasi. Pemerintah mengimbau sekolah untuk tak menggelar aktivitas di luar ruangan, serta penduduk diminta tetap berada di dalam ruangan dan "mengambil tindakan pencegahan", tanpa penjelasan lebih detail.
Masalah polusi yang parah di China telah lama dikaitkan dengan ratusan ribu kematian bayi, serta menjadi penyebab ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Partikel PM2,5 dapat memicu penyakit jantung, stroke, serta gangguan paru-paru seperti kehancuran kantung udara dan kanker.
Karena pemanas batu bara
Hari Minggu kemarin, data dari Biro Perlindungan Lingkungan setempat menunjukkan level keseluruhan partikel PM2,5 di Shenyang merangkak hingga 1.157 mikrogram per meter kubik. Angka itu memuncak hingga mencapai 1.400 di sejumlah bagian kota menurut laporan stasiun televisi CCTV, dengan jarak pandang kurang dari 100 meter.
Temuan tersebut nampaknya merupakan rekor tertinggi yang pernah ada di China. Menurut otoritas lingkungan Shenyang di akun resmi media sosialnya, polusi ekstrem itu muncul akibat sistem pemanas publik berbahan batu bara yang dinyalakan seiring tibanya musim dingin. Polusi dari provinsi tetangga turut menambah pekat udara kota Shenyang.
Penjelasan tersebut lantas membakar emosi warga internet.
"Swedia juga punya penghangat umum -- kenapa mereka tidak kena kabut?" tanya seorang dari mereka.
"Jika perusahaan alat pemanas berani membeli batu bara murah berkualitas rendah dan meracuni lingkungan, mereka harus ditemukan dan ditembak seketika," tulis seorang pengguna media sosial lainnya.
Xinhua menganggap respons darurat pemerintah itu "tak berguna" untuk menghadapi "kabut dan polusi parah macam ini", yang disebutnya terberat tahun ini.
Seorang pengguna media sosial menulis, "Polusi lingkungan telah membuat penyakit kronis jadi hal yang semakin biasa. Kita sedang menjadi manusia sakit di abad baru Asia."
(den)