Hanya sehari sebelum serangan di Perancis terjadi, dua bom bunuh diri meledak di ibu kota Libanon, merenggut 43 nyawa dan melukai 239 orang lainnya.
Diberitakan CNN, bom tersebut meledak di distrik di selatan Beirut pada Kamis (12/11). Sekitar 150 meter dari sana, bom kedua meledak hanya berselang lima menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaringan ISIS pelaku kedua serangan bahkan disinyalir saling berkaitan.
Tak hanya itu, tiga anggota lokal Hizbullah dikabarkan turut tewas dalam ledakan bom di Libanon.
Sosok pahlawan
Insiden di Libanon pun memiliki sosok pahlawan yang semestinya mampu menarik perhatian orang di berbagai jejaring sosial.
Adalah Adel Termos, seorang warga Libanon biasa yang merelakan nyawanya demi menyelamatkan orang lain.
Termos sedang berjalan-jalan bersama putrinya di sekitar lokasi kejadian ketika ia melihat seorang pengebom sedang mempersiapkan rompi ledaknya. Ia lantas menghalangi pria tersebut, merelakan nyawanya melayang, menyelamatkan puluhan atau bahkan ratusan orang lain.
Namanya sempat mencuat di jejaring sosial, tapi perlahan tenggelam dalam ketenaran fitur safety check di laman Facebook gagasan Mark Zuckerberg.
Dunia maya sempat bergejolak dan protes terhadap standar ganda Facebook ini. Membendung gelombang protes tersebut, Wakil Presiden Facebook, Alex Schultz, angkat bicara.
"Harus ada kali pertama untuk mencoba hal baru, bahkan dalam situasi kompleks dan sensitif. Bagi kami, itu adalah Paris. Aktivasi ini akan mengubah kebijakan kami mengenai Safety Check dan kami akan mengaktifkan ini dalam insiden tragis dan serius di masa depan," katanya.
Kuranganya sorotan dan simpati terhadap Libanon dianggap patut dipertanyakan. Pasalnya, Libanon pun sebenarnya sudah lama menjadi korban kekejaman negara-negara tetangganya.
Kedekatan lokasi Libanon dengan wilayah ISIS di Suriah menyebabkan negara tersebut dihantui serangan teror.
Perselisihan dalam tubuh pemerintahan Libanon sendiri diperkeruh oleh akibat perang sipil berdarah di Suriah.
Akibat perang Suriah pula, Libanon dibanjiri lebih dari satu juta pengungsi yang juga berpotensi melakukan kekerasan. (stu)