Kepada harian Filipina, The Inquirer, Komandan Pasukan Gabungan Sulu, Brigjen Alan Arrojad melaporkan bahwa Bernard Then, 39, tewas di Pulau Jolo, selatan Filipina sekitar pukul empat sore dengan cara dipenggal.
Then diculik oleh kelompok bersenjata Filipina pada Mei lalu di restoran apung Seafood King, Sabah. Sang pemilik restoran, Thien Nyuk Fun, turut disandera sebelum akhirnya dibebaskan dengan tebusan sebesar US$600 ribu (sekitar Rp8 miliar) awal bulan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tak pelak murka atas pembunuhan pertama oleh kelompok militan yang menimpa warga Malaysia itu.
"Saya, pemerintah, serta seluruh Malaysia terguncang dan muak atas pembunuhan warga kami Bernard Then, dan kami mengutuknya dengan amat keras." Najib menulis di akun Facebook-nya, dilansir dari Channel NewsAsia.
"Kami meminta pihak berwenang untuk menindak mereka yang berbuat keji dan barbar ini dan memastikan mereka diadili. Kami juga akan memperpanjang kerja sama penuh dengan badan dan pihak terkait demi penyelidikan insiden ini,” ujarnya.
Najib menandaskan, "Doa dan dukacita kami yang tulus mengiringi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan."
Meski jauh di selatan Filipina, tewasnya Then menjadi peringatan bagi pemimpin dunia yang tengah berkumpul di ibu kota Manila dalam pertemuan kerja sama ekonomi Asia-Pasifik (APEC), soal tantangan keamanan yang dihadapi Filipina.
"Ada sejumlah laporan terpercaya bahwa Abu Sayyaf telah melakukan eksekusi itu," Arrojado memberi keterangan pada reporter di Manila. Ia menambahkan tim keamanan telah dikirim ke sana untuk mengevakuasi jasad Then. Intelijen juga telah melaporkan situasi terbaru di wilayah tersebut, namun Arrojado tak merincinya lebih jauh.
Pulau Jolo merupakan wilayah jajahan Abu Sayyaf, kelompok yang terkenal kerap mengebom, menculik, memenggal kepala, serta meminta tebusan untuk membebaskan tawanannya. (stu)