Majalah mingguan yang jadi sorotan dunia akibat serangan teroris pada Januari itu mengontraskan penembak Islam dengan gaya hidup hedonis Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepuluh bulan sebelum serangan paling mematikan di Eropa selama satu dekade tersebut, sel teroris yang mengklaim berhubungan dengan al-Qaidah di Yaman merenggut nyawa 17 orang di swalayan Yahudi dan kantor Charlie Hebdo, yang juga terletak di Paris.
Charlie Hebdo kehilangan banyak kartunis hebatnya yang kerap mengejek Islam dan agama lain pada serangan 7 Januari itu.
Meski dituding tidak peka, Charlie Hebdo tetap dianggap sebagai simbol kebebasan bereskpresi oleh pemerintah dan publik Perancis. Pamor mereka memang meroket selepas tragedi tersebut, namun hingga kini mereka masih berjuang mengatasi hambatan yang ada, termasuk kebangkrutan finansial yang tertolong berkat lonjakan pelanggan yang bersimpati pasca insiden Januari.