Seperti dikutip dari CNN, Jaksa penuntut Paris, Francois Molins mengatakan bahwa Abdelhamid Abaaoud, sang terduga pemimpin serangan, adalah orang Perancis yang diduga baru datang dari ‘ibukota de facto ISIS’, alias wilayah Raqqa di Suriah.
Pihak berwenang memusatkan perhatian pada bangunan di Saint-Denis setelah mendalami percakapan telepon yang menunjukkan bahwa saudara Abdelhamid mungkin berada di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertempuran yang sarat pertumpahan darah itu menyisakan puing-puing yang termasuk ceceran bagian tubuh, di mana penyidik kemudian melakukan tes DNA, mencoba untuk menentukan identitas dua teroris yang terbunuh.
Sayangnya, Molins mencatat bahwa baik Abaaoud atau Salah Abdeslam, yang juga diduga terlibat dalam serangan teror pekan lalu, tidak termasuk di antara delapan orang yang ditahan tersebut.
Presiden Perancis, Francois Hollande menyatakan penggerebekan yang brutal tersebut sebagai bukti lebih lanjut bahwa pihaknya sedang “berperang" melawan ISIS.
"Apa yang para teroris targetkan adalah apa yang Perancis wakili. Hal ini adalah apa yang diserang pada malam 13 November lalu. Orang-orang barbar ini menargetkan keragaman Perancis. Kaum muda Perancis juga menjadi sasaran hanya karena mereka mewakili kehidupan," ujarnya
Ia juga akan mengajak para pemimpin dunia, termasuk dalam pertemuan pekan depan dengan Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin – yang telah berselisih tentang apa yang harus dilakukan di Suriah – untuk pergi melawan kelompok ekstrimis tersebut.
"Tidak boleh ada lagi perpecahan. Hanya ada laki-laki dan perempuan dengan tugas. Kita harus menghancurkan tentara ISIS ini yang mengancam seluruh dunia, bukan hanya beberapa negara," tegasnya.