Seperti dilansir Channel NewsAsia, latihan militer ini bertepatan dengan peringatan lima tahun insiden yang menewaskan empat orang di wilayah tersebut pada 23 November 2010.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, rencana latihan tembak ini mengundang reaksi keras Korut. Mereka mengancam akan melakukan balas dendam tanpa ampun jika Korsel tetap melaksanakan latihan ini.
"Jika militer Korsel menembak ke arah perairan Korut di wilayah panas di Laut Barat Korea pada Senin, mereka akan merasakan balas dendam tanpa ampun dari unit Front Barat Daya Korut di lima pulau mereka," kata seorang juru bicara Tentara Rakyat Korea yang dikutip oleh kantor berita Korut, KCNA, pada Minggu (22/11).
Korut menyarankan Korsel belajar dari insiden pada lima tahun lalu agar tidak salah langkah.
"Mereka seharusnya tidak menggali kubur sendiri karena menabuh genderang perang dengan serangan awal melawan Korut, tapi belajar dari serangan pahit yang mereka alami lima tahun lalu," kata juru bicara tersebut.
Perseteruan ini memanas hanya berselang beberapa hari setelah Korut dan Korsel sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat pemerintahan pertama kalinya pada 26 November mendatang di perbatasan militer kedua negara, tepatnya Desa Panmunjom, guna memperbaiki hubungan.
Korut dan Korsel sendiri secara teknis masih dalam keadaan perang karena perang berakhir bukan karena perjanjian damai, melainkan gencatan senjata.
Sejak saat itu, hubungan antara Korut dan Korsel selalu mengalami pasang surut. Hingga akhirnya hubungan membeku pada 2010, ketika kapal perang Korsel karam dan menewaskan 46 pelaut.
Korsel menyalahkan Korut atas insiden tersebut. Namun, Korut membantah.
Pada akhir 2010, Korut juga mengebom pulau di Korsel dan menewaskan empat orang.
Korsel pun memberlakukan sanksi yang menghentikan hampir semua pertukaran komersial di antara kedua negara. (den)