Dilaporkan Reuters, Suu Kyi dan Min Aung Hlaing berbincang selama satu jam di kantor pusat militer di ibu kota Naypyidaw. Pertemuan itu berlangsung empat mata dan tanpa ada pendamping dari kedua belah pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kemenangan besar NLD dalam pemilu tahun ini dan masih kuatnya pengaruh militer di parlemen Myanmar, kedua belah pihak diharapkan dapat bekerja sama agar transisi pemerintahan akan berjalan lancar
Meski telah memeluk demokrasi, militer tetap mendapatkan jatah 25 persen kursi parlemen, dan memiliki hak veto dalam perumusan perubahan undang-undang. Selain itu, dalam undang-undang yang disahkan pada rezim junta militer, sejumlah sektor kunci, seperti kementerian dalam negeri, kementerian pertahanan dan kementerian perbatasan juga harus dikuasai oleh militer.
Sebelumnya, pertemuan Suu Kyi dengan Presiden Thein Sein di rumah sang presiden digambarkan sebagai pertemuan yang hangat dan terbuka, menurut juru bicara presiden, Ye Htut.
Berlangsung semana sekitar 45 menit, pertemuan keduanya diharapkan menjadi ajang negosiasi atas pembentukan pemerintahan yang baru, dan akan menentukan bagaimana kandidat partai masing-masing dapat bekerja sama di parlemen yang baru.
Pertemuan ini juga dinilai sebagai pertemuan pertama di mana kedua pemimpin partai besar Myanmar ini dapat mengungkapkan pandangan mereka soal pengaruh militer dalam parlemen dan konstitusi.
"Kami membuka saluran komunikasi antara kedua belah pihak," kata Ye Htut.
"Mereka fokus pada pengupayaan transisi pemerintahan yang lancar, damai dan bertanggung jawab. Juga soal kerja sama kedua belah pihak sehingga tidak ada kekhawatiran bagi publik," katanya melanjutkan.
Salah satu hasil yang signifikan dari pertemuan tersebut adalah bahwa kedua pemimpin sepakat untuk membentuk tim transisi, mencoba meringankan proses transisi pemerintahan, yang bisa saja menjadi rumit, karena kandidat NLD belum memiliki pengalaman menjalankan pemerintahan. (ama)