Farooq dan istrinya, Tashfeen Malik, melepas tembakan kepada rekan satu kantor Farook di sebuah pesta yang berlokasi di fasilitas penyandang disabilitas di San Bernardino pada Rabu pekan lalu.
Pasangan itu kemudian tewas dalam baku tembak dengan polisi sekitar beberapa jam setelah insiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengingat ketika suatu waktu mengingat anaknya—yang menurutnya rajin, pekerja keras dan patuh—memegang senjata.
“Saya jadi marah. Dalam 45 tahun di AS, saya berteriak: ‘Saya tak pernah memiliki senjata’. Ia mengangkat bahu dan menjawab: ‘Kau yang rugi,’” kenang ayah Farook.
“Saya tak bisa memaafkan diri saya. Mungkin jika saya di rumah, saya bisa tahu dan menghentikannya,” ujar dia.
Kasus terorisme
La Stampa menurunkan berita itu pada Minggu (6/12), sehari setelah ISIS mengumumkan bahwa Farook dan Malik merupakan pendukung mereka. Sebelum itu, FBI juga sudah menyatakan bahwa mereka menganggap pembantaian San Bernardino ini sebagai kasus terorisme.
Sementara itu, motif penembakan saat ini masih diselidiki. (Baca: Mencari Motif Penembakan Massal di Bernardino)
Analis militer CNN, Rick Francona, mengatakan bahwa pengumuman ISIS terkait pasangan itu tidak berarti bahwa mereka mendapat perintah dari ISIS.
Menurutnya, ketika mengklaim sebuah serangan, ISIS biasanya menyebut penyerangan sebagai “ksatria” atau “tentara” dan bukan “pendukung”.
“Ketika mereka menyebut dua orang ini sebagai pendukung, ini semacam level yang lebih rendah,” ujar Francona. (stu)