Diberitakan Al-Arabiya, Senin (7/12), ISIS tidak seperti kelompok militan lainnya, misalnya al-Qaidah, yang mengandalkan bantuan dana dari luar. ISIS, menurut IHS, mendapatkan pemasukan dengan mengolah sumber daya, menjual barang antik, atau pungutan pajak dari wilayah yang mereka kuasai di Suriah dan Irak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"ISIS mengendalikan wilayah sehingga mereka bisa menarik pajak warga, menyita properti, mendapat pemasukan dari usaha negara dan dari minyak dan gas. Kelompok teroris lainnya tidak memilikinya," kata Columb Strack, pengamat senior dari IHS yang berbasis di London.
Jika permasukan itu dikalikan 12 bulan, maka pendapatan ISIS setara dengan PDB Samoa, negara kecil berpopulasi 198 ribu orang, pada tahun 2014.
Pengolahan dana ini membuat ISIS kian menjadi sebuah negara. Bocoran dokumen yang diperoleh The Guardian menunjukkan prinsip dasar pembentukan negara yang dianut ISIS, termasuk pendirian lembaga penopang kesejahteraan warga, seperti pendidikan, keuangan, sumber daya alam, hingga hubungan luar negeri.
Namun IHS mengatakan, pemasukan ISIS kini mulai menurun akibat serangan udara koalisi AS yang menghancurkan kilang minyak serta truk tangki yang mereka miliki.
"Ada indikasi kelompok ini berupaya menyeimbangkan anggarannya, dengan adanya laporan pemotongan jumlah tentara, gaji, kenaikan harga listrik dan kebutuhan dasar lainnya, serta diterapkannya pajak pertanian," ujar laporan IHS.
Strack mengatakan bahwa ISIS mulai menerapkan bayaran bagi warga yang ingin meninggalkan wilayah mereka. Selain itu, kelompok ini juga tengah mencari cara lain dalam mengumpulkan dana.
"Mereka bisa meningkatkan tarif listrik, jaringan telepon seluler, internet dan semua bentuk layanan publik. Tapi masyarakat sudah kesulitan membayar. Akan semakin sulit bagi mereka tinggal di dalam wilayah ISIS," kata Strack. (den)