"Punya kami 'kan cuma kapal nelayan, saya merasa reaksi kapal angkatan laut Rusia itu berlebihan," kata Menlu Turki, Mevlut Cavusoglu dalam wawancara kepada harian Italia, Corriere della Sera.
Sebelumnya, pada Minggu (13/12) pagi, kapal perang Rusia, Smetlivy, terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal Turki di Laut Aegean untuk menghindari tabrakan. Rusia mengaku telah memanggil atase militer Turki atas insiden tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Rusia telah "menempatkan dirinya sendiri di posisi yang bodoh", berkat tuduhan yang dilontarkan Presiden Vladimir Putin bahwa Turki menembak jatuh jetnya demi melindungi pasokan minyak dari kelompok militan ISIS. "Tidak ada yang memercayainya," kata Cavusoglu yakin.
Lihat juga:Dilarang ke Turki, Turis Rusia Lirik Asia |
"Sayangnya, keberadaan Rusia di Suriah bukan untuk melawan teroris," ujarnya, menambahkan bahwa hanya 8 persen dari serangan udara Rusia yang bertujuan menggempur ISIS, sementara 92 persen sisanya ditujukan bagi kelompok pemberontak musuh Assad.
Bagi Cavusoglu, serangan udara yang ada belum cukup untuk memberangus ISIS, dan pasukan darat diperlukan untuk melakukannya.
Lihat juga:Vladimir Putin: Allah Menghukum Turki |