Informasi yang pertama kali dilaporkan oleh Los Angeles Times pada Senin (14/12) ini didapatkan dari sejumlah agen FBI yang tengah melakukan investigasi terhadap kasus penembakan yang menewaskan 14 orang ini. FBI masih mencoba menemukan motif serangan yang dilakukan Malik, 29, dan suaminya, Syed Rizwan Farook, 28, pasangan suami-istri Muslim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LA Times melaporkan bahwa pesan yang ditulis Malik di Facebook menunjukkan bukti bahwa untuk pertama kalinya para penegak hukum dan intelijen AS tidak mengetahui tanda-tanda radikalisasi di sosial media yang bisa menjadi ancaman yang potensial bagi keamanan AS, sebelum Malik mengajukan visa AS.
Laporan ini diketahui setelah sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa sejak serangan di San Bernardino, pemerintah AS mulai menguji prosedur baru untuk meninjau aktivitas media sosial pelamar visa AS.
Pejabat yang menolak untuk namanya dipublikasikan itu juga menolak membahas teknik pemantauan di media sosial tertentu yang saat ini tengah diuji.
Namun, satu pejabat pemerintah menyatakan bahwa prosedur baru tersebut akan membantu petugas dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk dapat memantau aktivitas media sosial dari pemohon visa.
Hingga saat ini belum ada perintah eksplisit yang melarang para penyidik visa untuk mengawasi akun media sosial pelamar visa. Namun, sejumlah lembaga telah mengaku khawatir atas prosedur baru tersebut.
John Cohen, mantan kepala biro intelijen DHS, sejumlah pejabat DHS mengaku keberatan soal penyidikan visa melalui media sosial, dengan dalih kebebasan sipil dan privasi.
Menurut laporan LA Times, salah satu pejabat menyebut pesan Malik sebagai "komunikasi pribadi untuk sekelompok kecil teman-temannya."
Pejabat itu menambahkan, "Pesan itu hanya dikirim ke sejumlah warga di Pakistan." Pejabat itu juga menyatakan bahwa pesan ditulis dalam bahasa Urdu, bahasa resmi Pakistan.
Pejabat lainnya juga menyatakan bahwa Malik "mengungkapkan keinginannya" untuk menjadi militan di salah satu pesannya.
Para pejabat AS menyatakan bahwa mereka belum menemukan bukti bahwa kelompok militan ISIS berada di balik serangan ini atau mengarahkan Farook dan Malik untuk meluncurkan serangan. (ama/stu)