Menurut laporan lembaga Dewan Hubungan Islam-Amerika, CAIR, Kamis (31/12), 190 buruh itu diperlakukan diskriminatif oleh manajer di pabrik milik perusahaan Cargill Meat Solutions di Fort Morgan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka merasa tidak bisa shalat lebih buruk ketimbang kehilangan pekerjaan. Itu seperti kehilangan rahmat dari Allah," kata Hussein.
Juru bicara perusahaan Mike Martin mengatakan bahwa mereka mengakomodasi ibadah buruh dengan menetapkan jam yang tidak menganggu proses pengepakan daging. Kebijakan baru perusahaan, waktu shalat selama 10-15 menit dimasukkan dalam jam istirahat yang hanya 30 menit sehari. Pada jam istirahat ini, para buruh tidak mendapat bayaran.
Martin mengatakan 190 buruh meninggalkan pabrik pekan lalu sebagai bentuk protes. Perusahaan memberikan ultimatum tiga hari untuk mereka masuk kerja kembali, jika tidak akan dipecat. Semua buruh itu akhirnya dipecat karena tidak juga muncul setelah tiga hari.
Omar Jamal, direktur eksekutif Komisi HAM Somalia, mengatakan bahwa manajer Cargill tidak mengerti soal ibadah umat Islam, terutama soal waktu shalat lima waktu yang bisa berubah tergantung pergerakan sinar matahari di bulan tersebut.
Jamal mengatakan organisasinya telah menghubungi Cargill untuk menegosiasikan pekerjaan para buruh.
"Semoga akan diterapkan kebijakan yang jelas yang dimengerti semua orang dan bisa mengatasi masalah ini," kata Jamal.
Cargill mempekerjakan 155 ribu orang dari 68 negara, berdasarkan informasi di situs perusahaan. (den)