Dalam gambar, disebutkan bahwa Alan akan menjadi pelaku pelecehan seksual jika dia masih hidup. Hal ini dipertegas dengan judul besar "Akan jadi apa Alan jika dia tumbuh besar? Tukang meraba di Jerman."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartun ini dibuat menyusul serangan terhadap wanita di Cologne dan kota-kota lain di Jerman pada Malam Tahun Baru, yang diduga dilakukan para pengungsi, dengan lebih dari 600 aduan polisi.
Peristiwa itu memicu pertanyaan soal kebijakan Kanselir Jerman Angela Merkel yang menerima lebih dari 1 juta pengungsi tahun lalu, terbanyak di Eropa.
Protes terhadap kartun di majalah Charlie Hebdo. (Dok. twitter/@sunny_hundal) |
"Kartun Charlie Hebdo yang rasis dan menjijikkan ini membuat saya mempertanyakan 'Je Suis Charlie'," ujar wartawan Australia Ebony Bowden dalam akun Twitternya, dikutip CNN.
Wartawan Irak Mina Al-Oraibi dalam Twitter-nya menuliskan, "Kartun terbaru Charlie Hebdo yang merendahkan kenangan soal Alan Kurdi tidak bisa dimaafkan."
Maajid Nawaz, ketua lembaga think-tank asal London, Quilliam, mengatakan di Facebook bahwa satire Charlie Hebdo bisa diinterpretasikan beragam, tidak melulu rasis, tapi soal kritik sosial.
"Selera itu selalu soal pandangan mata yang melihat. Tapi kartun ini adalah bentuk protes terhadap sentimen anti-pengungsi kita," ujar Nawaz.
Charlie Hebdo menolak berkomentar saat dihubungi CNN.
Protes terhadap kartun di majalah Charlie Hebdo. (Dok. twitter/@sunny_hundal)