Mengucurkan dana hingga 20 juta poundsterling (sekitar Rp389 miliar) untuk membiayai program bahasa ini, Perdana Menteri Inggris David Cameron menyerukan berakhirnya "toleransi pasif" di masyarakat yang membuat banyak wanita Muslim menghadapi diskriminasi dan isolasi sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Inggris memperkirakan terdapat sekitar 190 ribu perempuan Muslim di Inggris yang memiliki kemampuan rendah berbahasa Inggris, atau tidak mampu sama sekali.
Program pembelajaran Bahasa Inggris yang baru menargetkan para perempuan yang kerap kali terisolasi dalam komunitas dan masyarakat Inggris. Program ini akan menyasar para perempuan di sejumlah komunitas tertentu di Inggris, berdasarkan hasil penelitian yang masih berlangsung dan dilakukan oleh Louise Casey, kepala unit keluarga bermasalah yang dijalankan oleh pemerintah.
Kelas bahasa Inggris akan diadakan di rumah-rumah, sejumlah sekolah maupun beberapa pusat komunitas. Pemerintah juga akan memberikan biaya untuk ongkos dan tunjungan anak kepada para perempuan yang berpartisipasi dalam program ini.
Cameron menyatakan bahwa semua fasilitas umum, termasuk tempat penitipan anak, sekolah, fasilitas medis dan pusat informasi lapangan pekerjaan harus mendukung program ini.
Cameron menyeutkan bahwa di Inggris, kaum pria "tidak takut akan keberhasilan perempuan" tapi justru merayakannya dengan bangga.
Program bahasa ini diluncurkan di tengah kekhawatiran soal jumlah warga Inggris yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond mengungkapkan sekitar 600 warga Inggris tertangkap ketika mencoba mencapai Suriah untuk mengangkat senjata dan bergabung dengan ISIS dan sejumlah kelompok jihad lainnya dalam perang sipil berdarah di negara itu sejak 2012.
Pernyataan Hammond menambah daftar panjang warga Inggris yang telah berhasil mencapai Suriah sejak awal perang saudara di negara itu. Diperkirakan sekitar 800 warga Inggris berhasil memasuki Suriah, dan sekitar setengah di antaranya telah kembali ke Inggris.
Hammond, yang kini tengah mengunjungi Turki, menyoroti upaya meningkatkan kerja sama antara pemerintah Inggris dan Turki untuk menekan jumlah warga Inggris yang berangkat ke Suriah. Pasalnya, Turki selama ini dijadikan negara transit bagi para calon jihadis yang ingin memasuki Suriah. (ama/den)