Menurut Reuters yang mengutip lembaga Syrian Observatory for Human Rights, Rabu (20/1), sebanyak 500 keluarga kembali ke distrik al-Qadam. Gencatan senjata sebelumnya disepakati oleh kedua kubu pada Agustus 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taim al-Shami, juru bicara dewan oposisi al-Qadam mengatakan di wilayah yang dikuasai FSA tidak ada listrik dan air, membuat warganya hanya mengandalkan sumur. Hal sebaliknya terjadi di daerah kekuasan rezim Suriah.
Kendati tanpa listrik dan air, ditambah bangunan yang masih rusak, warga al-Qadam bagian timur lebih memilih pulang ke rumah mereka.
"Mengungsi di dalam atau luar negeri selama tiga tahun lebih sulit dibanding kembali ke rumah yang hancur dan lingkungan yang tanpa kebutuhan dasar," kata al-Shami, dikutip dari laman Syria Direct.
"Mati di negeri sendiri dan di bawah atap rumah sendiri lebih terhormat bagi kami," dia menambahkan. (stu)