Ygeman menambahkan pemerintah Swedia akan menggunakan pesawat sewaaan untuk mengirimkan para imigran kembali ke negara asal selama beberapa tahun.
"Kita bicara soal 60 ribu orang, tapi jumlahnya bisa meningkat hingga 80 ribu orang," kata Ygeman, seperti dikutip RT dari surat kabar lokal, Svenska Dagbladet pada Rabu (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingkat kedatangan imigran ke negara itu mulai menurun sejak Januari 2016, ketika Swedia menerapkan pemeriksaan dokumen di perbatasan, setelah negara itu mulai kewalahan menampung para pencari suaka.
Pihak kepolisian juga telah meminta 4.100 personel baru setelah serangan penusukan mematikan di fasilitas pengungsian.
Serangan itu terjadi di sebuah fasilitas penampungan imigran di bawah umur dan pengungsi tanpa pendampingan di Mölndal, Swedia selatan pada Senin (25/1), menyebabkan serang staf perempuan berusia 22 tahun tewas oleh seorang anak 15 tahun.
Korban tewas diketahui bernama Alexandra Mezher merupakan lulusan psikologi yang bekerja pada malam hari dan sendirian ketika dia diserang. Motif serangan itu belum diketahui.
"Dia bekerja di pusat penampungan itu selama sekitar empat bulan. Dia ingin melanjutkan studinya, tetapi ingin bekerja dulu untuk mendapat pengalaman," kata teman Mezher, Lejla Filipovic.
Dalam insiden lain pekan lalu, patroli polisi yang terdiri dari 10 petugas terpaksa melarikan diri dari pusat pengungsian Västerås di Swedia, setelah dikepung oleh sekelompok pencari suaka. Padahal, polisi berada di tempat penampungan itu untuk merelokasi seorang anak berusia 10 tahun, yang dilaporkan mengalami pemerkosaan berulang.
Sejumlah langkah pengamanan yang lebih ketat juga diterapkan di negara tetangga Swedia. Denmark, misalnya, meloloskan RUU yang mengizinkan pemerintah menyita barang berharga para imigran.
Sementara, jumlah pengungsi yang rela menyebrangi Laut Mediterania demi impian penghidupan yang lebih baik di Benua Biru hingga kini belum mereda. PBB mengungkapkan terdapat lebih dari 46 ribu imigran yang tiba di Yunani sejak awal tahun, dengan lebih dari 170 orang tewas ketika berusaha menyeberangi laut.